Rabu, 06 Mei 2020

KRISTALISASI: Bilah Kristal pada Pembuatan Coklat

PENERAPAN KRISTALISASI DALAM OLAHAN COKELAT


Cokelat adalah salah satu produk pangan yang paling umum kita jumpai. Ternyata cokelat yang sering kita konsumsi merupakan hasil olahan lemak kakao ang mengalami kristalisasi dan dengan proses-proses tertentu sehingga menjadi suatu produk cokelat loh. Proses ini disebut dengan kristalisasi lemak. Kira-kira bagaimana kristalisasi lemak pada cokelat? Sebelum kita mengenal tentang proses kristalisasi pada cokelat, ada baiknya kita mengetahui tentang kristalisasi secara umum.

Salah satu unsur pembentuk struktur dalam bahan atau produk pangan adalah kristal. Berbagai produk pangan seperti permen dan cokelat mengandung struktur dalam bentuk kristal. Adanya kristal mempengaruhi mutu, tekstur dan daya simpan produk pangan. Kristalisasi merupakan istilah yang menunjukkan beberapa fenomena yang berbeda berkaitan dengan pembentukan struktur kristal. Kristalisasi menunjukkan sejumlah fenomena yang berkaitan dengan pembentukan struktur matriks kristal. Prinsip pembentukan kristal adalah sebagai berikut:
1. Kondisi lewat jenuh untuk suatu larutan seperti larutan gula atau garam.
2. Kondisi lewat dingin untuk suatu cairan atau lelehan (melt) seperti air dan lemak.
Untuk mempermudah kita dalam memahami, berikut lustrasi sederhana tentang proses kristalisasi:


Tahap-tahap kristalisasi:
1.  Supercooling yaitu penurunan suhu larutan dibawah suhu minyak yang mulai memadat dengan tujuan untuk membentuk inti kristal.
2. Nukleasi
Mulai terjadi saat inti kristal terbentuk, tahap ini terdiri dari:
a)   Nukleasi primer
Terbentuknya inti kristal yang tidak stabil, bisa berukuran kecil di permukaan. Jika ukurannya kecil di permukaan dan tidak sampai dengan ukuran kritis minimal, dia akan larut kembali (artinya tidak terjadi kristalisasi).
b)   Nukleasi sekunder
Dapat terjadi apabila jika nukleasi primer membentuk kristal yang berukuran besar dari ukuran kritis minimal kristal.
Adapun faktor pengaruh nukleasi yaitu kondisi, supersaturasi, keasaman, suhu, adanya bibit atau impuritas, dan sufaktan dalam katalisator.
3. Pertumbuhan kristal
Kristal yang sudah terbentuk akan terus mengalami pembesaran ukuran dan mengalami pertumbuhan kristal terus menerus. Setelah proses tersebut, ada satu tahap lagi yang dinamakan rekristalisasi atau pengaturan kembali struktur kristalin sampai mencapai energi terendah.

Salah satu contoh dari kristalisasi yaitu pada cokelat yang mengalami proses perubahan wujud dari cair menjadi padat (Harnaz, 2008). Hal ini lah yang disebut dengan kristalisasi lemak pada coklat. Fenomena kimia penting ini terjadi pada tahap tempering dalam proses pembuatan cokelat. Cokelat memiliki 6 jenis kristal, dari kristal tipe I sampai tipe VI. Masing-masing memiliki karakter rasa yang berbeda.

Mekanisme Kristalisasi Lemak:

Menurut Winarno (2012), bila suatu lemak didinginkan, hilangnya panas akan memperlambat gerakan molekul-molekul dalam lemak, sehingga jarak antar molekul lebih kecil. Jika jarak antar molekul tersebut mencapai 5วบ, maka akan timbul gaya tarik menarik antar molekul. Akibat dengan adanya gaya ini, maka radikal-radikal asam lemak dalam molekul lemak akan tersusun berjajar dan saling bertumpuk serta membentuk ikatan kristal. Tahap pengkristalan lemak dimulai pada sisi-sisi tertentu saat suhu mencapai tingkat yang mampu membentuk inti kristal dan lama kelamaan membentu kristal utuh
Faktor-faktor yang mempengaruhi kristalisasi lemak, yaitu:
1.     Laju Pendinginan
Kristalisasi lemak sangat dipengaruhi oleh laju pendinginan. Laju pendinginan berpengaruh pada laju pembentukkan inti kristal, yang mempengaruhi ukuran kristal.
2.     Komponen Minor
Komponen minor yang dapat mempengaruhi kristalisasi lemak adalah lemak yang lebih polar seperti diasilgliserol, monoasilgliserol, asam lemak bebas, fosfolipid, dan sterol.
3.     Komponen Pengotor
Semakin banyak pengotor maka kristalisasi akan berlangsung semakin cepat.
4.     Agitasi
Laju agitasi tinggi menghasilkan laju kristalisasi yang tinggi pula dan kristal lemak yang kecil.
5.     Suhu Kristalisasi
Ketika suhu kristalisasi dinaikkan, maka suhu pembentukkan inti kristal meningkat dan waktu induksi untuk kristalisasi bertambah.
Proses Tempering
Dalam hal ini pada proses pembuatan coklat, cara mendapatkan jenis kristal lemak yang stabil adalah melalui tahap tempering. Tempering adalah perlakuan yang berkaitan dengan pengaturan suhu.  Produk tanpa proses tempering akan menyebabkan cokelat mengalami fat blooming. Fat blooming ini terjadi apabila kristal lemak yang stabil berubah menjadi kristal tidak stabil. Perubahan ini mengakibatkan adanya ruang kosong antara kristal lemak sehingga terbentuk pipa kapiler, hal ini menyebabkan penampakan lapisan putih pada permukaan coklat batangan. Sesuai dengan pernyataan Indarti,E.,dkk (2013) yang telah melakukan penelitian dengan metode tempering, perubahan tersebut membuat rasa yang dihasilkan tidak berubah, namun teksturnya kasar dan penampakannya tidak lagi menarik karena ada pemisahan lemak dengan komponen lainya dalam cokelat.

Tempering bertujuan untuk membentuk salah satu jenis kristal tertentu yang terdapat pada lemak cokelat. Menurut Alex (2003), cara yang paling umum adalah pertama-tama memanaskan cokelat sampai bersuhu lebih dari 450C untuk melelehkan keenam jenis kristal. Melalui proses  thermal  ini, struktur cokelat akan leleh. Pendinginan cepat menjadi suhu 26-270C akan menyebabkan pembentukan polimorf stabil dan tidak stabil menjadi kristal. Suhu dipertahankan pada titik ini untuk meratakan pembentukan kristal secara menyeluruh pada campuran pasta dan untuk pembentukan kristal secara lengkap. Selanjutnya suhu dinaikkan kembali menjadi 30-320C untuk melelehkan semua kristal yang tidak stabil yaitu kristal I, II, III, IV, dan menyisakan kristal tipe V dan VI yang dikenal dengan kristal beta.

Tempering akan membentuk kristal cokelat yang lebih stabil. Ketika melakukan proses tempering, cokelat dipertahankan agar dalam keadaan kering oleh karena itu dibutuhkan proses conching sebelum dilakukan tempering.

Cokelat memiliki dua sifat utama yang perlu diperhatikan yaitu flavor dan tekstur. Cokelat mempunyai cita rasa yang khas, teksturnya berbentuk padat pada suhu kamar, cepat meleleh di mulut, menjadi cair dan terasa lembut di lidah. Karakteristik produk cokelat ini dipengaruhi oleh karakteristik kristal lemak cokelat yang terbentuk.

Menurut penelitian Isyanti,dkk (2015), karakteristik sensoris kristal cokelat pada suhu leleh tertentu yaitu
:
Kristal
Suhu Leleh
Efek Rasa
17 °C 
(63 °F) 
Lunak, mudah hancur, terlalu mudah lumer 
II 
21 °C 
(70 °F) 
Lunak, mudah hancur, terlalu mudah lumer
III 
26 °C 
(78 °F) 
Padat, patah kurang sempurna, terlalu mudah lumer 
IV 
28 °C 
(82 °F) 
Padat, patah kurang sempurna, terlalu mudah lumer 
34 °C 
(94 °F) 
Mengkilap, padat, renyah, leleh pada suhu tubuh (37 °C). 
VI 
36 °C (97 °F) 
Keras, sulit menjadi padat

Tirik leleh lemak kakao yang baik untuk makanan cokelat adalah yang mendekati suhu badan manusia (37oC) dengan tingkat kekerasan minimum pada suhu kamar. Berdasarkan jenis kristal, kristal yang paling baik dalam menyusun produk cokelat adalah kristal Beta. Kristal beta memiliki struktur yang kecil sehingga menghasilkan tekstur yang glossy dan mampu membentuk kelompok kristal yang besar. Untuk mendapatkan kristal yang stabil maka pembentukan kristal membutuhkan waktu yang lebih lama. Ukuran kristal yang terlalu besar akan menghasilkan produk cokelat yang tidak padat dan mudah hancur saat dipatahkan (Mulato., dkk, 2002).

Solusi:
Pada olahan cokelat terjadi pembentukan kristal yang disebut kristalisasi lemak. Kristalisasi lemak pada cokelat adalah kondisi dimana suatu komponen mengalami perbuahan wujud dari cair menjadi padat. 
Kristalisasi dapat terjadi pada proses dan keberhasilan proses kristalisasi ini dipengaruhi oleh seperti adanya perbedaan kelarutan zat-za padat dalam pelarut tertentu, baik dalam pelarut murni  maupun dalam pelarut campuran, suatu zat padat akan lebih larut dalam pelarut panas dibandingkan dalam pelarut dingin. Sesuai dengan prinsip tersebut hal yang dapat menentukan keberhasilan pada kristalisasi adalah memilih perat yang tepat. Dimana pelarut tersebut sukar melarutkan senyawa pada suhu kamar, teapi dapat melarutkan dengan baik pada titik didihnya. 

Dari tulisan diatas, dapat kita simpulkan bahwa salah satu contoh dari kristalisasi yaitu pada cokelat yang mengalami proses perubahan wujud dari cair menjadi padat. Kristalisasi pada pengolahan cokelat yaitu adalah kristalisasi lemak dan untuk mebentuk kristal tersebut dilakukan proses yang dinamakan tempering,dan sebelum dilakukan proses tersebut, dilakukan proses conching  agar coklat tetap dalam keadaan kering.